Rabu, 21 September 2011

TOKOH-TOKOH PERIODE POSTMODERNISME


MAKALAH
TOKOH-TOKOH
PERIODE POSTMODERNISME
Sebagai tugas mata kuliah Estetika
Dosen Pengampu: Uum Qomariyah, M. Hum.









Oleh:
Imam Fitrin                       2101409154




PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2010


BAB I PENDAHULUAN

Perkembangan filsafat fenomenologi pada masa awal abad ke dua puluh yang mengkritisi pendekatan matematis dari modernisme kemudian membawa suatu pendekatan baru dalam estetika. Dalam fenomenologi, perhatian lebih diarahkan kepada keberadaan subjek yang mempersepsi objek daripada kepada objek itu sendiri. Dengan kata lain hal ini dapat dikatakan sebagai: membuka kemungkinan adanya subjektivitas. Hal ini menimbulkan kesadaran akan adanya konteks ruang dan waktu; bahwa pengamat dari tempat yang berbeda akan memiliki standar penilaian yang berbeda, dan begitu pula dengan pengamat dari konteks waktu yang berbeda. Pemikiran inilah yang kemudian akan berkembang menjadi postmodernisme.
Terbukanya kemungkinan untuk bersifat subjektif memberi jalan bagi keberagaman dalam estetika, dan memberikan banyak pengaruh pada arsitektur. Pengaruh-pengaruh tersebut antara lain adalah:
Wajah arsitektur yang semakin beragam dan semakin kompleks, tidak seperti wajah Arsitektur Modern yang selalu polos. Ide akan kompleksitas dalam arsitektur pertama kali dicetuskan oleh Robert Venturi dari Amerika dalam bukunya Complexity and Contradiction in Architecture (1962) yang kemudian mengawali postmodernisme dalam arsitektur. Dalam buku tersebut terlihat adanya pergeseran estetika yang sangat besar. Venturi mendukung penggunaan kompleksitas dan kontradiksi dalam arsitektur dan mencanangkan slogan less is bore yang merupakan penyerangannya terhadap slogan less is more dari Arsitektur Modern.
Dengan terbukanya subjektivitas, maka timbul kecenderungan untuk memberikan identitas pada arsitektur, baik berupa identitas pemilik ataupun identitas si arsitek. Akibat dari kecenderungan ini, terjadilah fenomena berlomba-lomba untuk membuat monumen-monumen yang dipergunakan untuk menunjukkan jatidiri. Pada titik ini terjadi tumpang-tindih antara estetika dengan simbolisme, karena estetika dipergunakan sebagai sarana untuk menunjukkan identitas. Ide ini bukanlah ide baru, karena arsitektur pada masa sebelum masa Arsitektur Modern juga telah banyak menggunakannya, akan tetapi yang terjadi pada postmodernisme adalah pluralisme yang berlebihan karena setiap individu berusaha untuk memiliki jatidiri sendiri (Piliang, 1998).
Adanya kesadaran akan kontekstualitas membuka pikiran akan tidak adanya universalitas dan objektivitas. Hal ini menuju pada pengakuan akan adanya (pengetahuan) konsep estetika arsitektur lain di luar arsitektur barat. Akibatnya terjadi perkembangan ilmu estetika arsitektur yang merambah ke arsitektur selain Barat yang sebelumnya dianggap sebagai oriental, termasuk juga arsitektur di Indonesia.
BAB II PEMBAHASAN

Periode postmodernisme didominasi oleh teori-teori postrukturalisme. postmodernisme mendeskontruksikan oposisi biner yang dipertahankan pada periode modernisme, sehingga pusatnya berubah terus-menerus.
Masuknya globalisasi dengan konsep-konsep posmodernisme melahirkan estetika baru yang disebut estetika postmodernisme. Hal ini terjadi karena sifat estetika yang sangat individual.estetika postmodernisme merupakan perkembangan dari estetika modernisme yang selalu menilai objek secara universal.
Tokoh-tokoh periode postmodernisme diberikan tempat tersendiri karena periode tarakhir ini menjadi akumulasi metode, konsep, dan teori dari periode-periode sebelumnya. Dalam periode ini juga terjadi berbagai permasalahan aktual yang berkaitan dengan kehidupan kita secara langsung. Tokoh-tokoh yang termasuk dalam pemikir dalam periode ini adalah Charles Sanders Peirce, Roman Osipocich Jakobson, Jan Mukarovsky, dan Hans Robert Jauss.
A.Charles Sanders Peirce
Charles Sanders Peirce (ejaan Inggris: [ˈpɜrs] purse[1]) (September 10, 1839 – April 19, 1914) adalah seorang filsuf, ahli logika, semiotika, matematika, dan ilmuwan Amerika Serikat, yang lahir di Cambridge, Massachusetts.
Peirce dididik sebagai seorang kimiawan dan bekerja sebagai ilmuwan selama 30 tahun. Tapi, sebagian besar sumbangan pemikirannya berada di ranah logika, matematika, filsafat, dan semiotika (atau semiologi) dan penemuannya soal pragmatisme yang dihormati hingga kini.
Peirce melangkah lebih jauh daripada Saussure dengan latar belakang sebagai ahli filsafat, ia dapat melihat dunia di luar struktur sebagai struktur bermakna. Berbeda dengan Saussure dengan konsep diadik, Peirce menawarkan konsep triadik sehingga terjadi jeda antara oposisi biner. Pierce jugalah yang mengembangkan teori umum tanda-tanda, sebaliknya Saussure lebih banyak terlibat dalam teori linguistik umum.
Pada dasarnya Peirce tidak banyak mempermasalahkan estetika dalam tulisan-tulisannya. Akan tetapi teori-teorinya mengenai tanda menjadi dasar pembicaran astetika generasi berikutnya. Menurutnya makana tanda yang sesungguhnya adalah mengemukakan sesuatu. Tanda harus diinterpretasikan agar dari tanda yang orisinil berkembang tanda-tanda yang baru. Tanda selalu terikat dengan sistem budaya, tanda-tanda tidak bersifat konvensional, dipahami menurut perjanjian, tidak ada tanda yang bebas konteks. Tanda selalu bersifat plural, tanda-tanda hanya berfungsi kaitannya denga tanda lain. Tanda merah dalam lampu lalu lintas, selain dinyatakan melalui warna merah, juga ditempatkan pada posisiyang paling tinggi, dua tampil secara bersamaan sebagai denotatum dan interpretant.  Dalam pengertian Peirce, fungsi referensial didefinisikan melalui triadik ikon, indeks, dan simbol. Tetapi interpretasi holistik juga harus mempertimbangkan tanda sebagai perwujudan gejala umum, sebagai representamen (qualisign, sinsign, dan legisign) dan tanda-tanda baru yang terbentuk dalam batin penerima, sebagai interpretant (rheme, dicent, dan argument). Tetapi yang paling sering dibicarakan adalah object (ikon, indeks, dan simbol).
B. Roman Osipocich Jakobson
            Jakobson adalah seorang linguist, ahli sastra, dan semiotikus yang lahir di Rusia (1896-1982). Karya-karyanya didasarkan atas linguistik Saussure, fenomenologi Husserl, dan perluasan teori semiotika Pierce. Pusat perhatiannya adalah integrasi bahasa dan sastra sesuai dengan tulisannya yang berjudul “Linguistics and Poetics”. Jakobson melukisakan antar hubungan tersebut dengan mensejajarkan enam faktor bahasa dan enam fungsi bahasa yang disebut poetic function of lenguage.
            Enam faktor bahasa, yaitu:
                                                Contecxt
            Addresser                    Message                      Addressee
                                                Contact                                               
                                                Code
            Enam fungsi bahasa, yaitu:
                                                Referential
            Emotive                       Poetic                          Conative
                                                Phatic
                                                Metalingual
C. Jan Mukarovsky
            Mukarovsky lahir di Bohemia(1891-1975). Sebagai pengikut strukturalisme Praha, ia kemudian mengalami pergeseran perhatian dari struktur ke arah tanggapan pembaca. Aliran inilah yang disebut strukturalisme dinamik. Sebagai pengikut kelompok formalis, ia memandang bahwa aspek estetis dihasilkan melalui fungsi puitika bahasa, seperti deotomatisasi, membuat aneh, penyimpangan, dan pembongkaran norma-norma lainnya. Meskipun demikian, ia melangkah lebih jauh, aspek estetika melalui karya seni sebagai tanda, karya sastra sebagai fakta transindividual. Singkatnya, karya sastra harus dipahami dalam kerangka konteks sosial, aspek estetis terikat dengan entitas sosial tertentu.
            Ada tiga ciri aspek estetis, yaitu:
  1. Aspek estetis bukan sifat atau hak milik objek secara intrinsik, aspek estetis juga tidak secara keseluruhan berada di luarnya.
  2. Aspek estetis tidak secara keseluruhan berada di bawah kontrol subjek individual.
  3. Aspek estetis merupakan masalah yang menyangkut hubungan antara kolektivitas manusia dengan dunianya.
Mukarovsky membedakan tiga macam nilai, yaitu nilai estetis aktual, nilai universal, dan nilai evolusi.
            Peran penting Mukarovsky adalah kemampuannya untuk menunjukkan dinamika antara totalitas karya dengan totalitas pembaca sebagai penanggap. Ia membawa karya sastra sebagai dunia yang otonom tetapi selalu dalam kaitannya dengan tanggapan pembaca yang berubah-ubah. Menurutnya, sebagai struktur dinamik, karya sastra selalu baerada dalam tegangan antara penulis, pembaca, kenyataan, dan karya itu sendiri.

D. Hans Robert Jauss
            Jauss lahir di Jerman. Ia termasuk dalam kelomok Konstanz, nama yang diambil dari sebuah universitas di Jerman Selatan. Sebagai ahli sastra dan kebudayaan abad pertengahan, Jauss ingin memperbaharui cara-cara lama yang semata-mata mendiskripsikan aspek-aspek kesejarahan sehingga menjadi lebih bersifat hermeneuitas. Tetapi di pihak lain, ia juga ingin memperbaharui kelemahan kelompok formalis yang semata-mata bersifat estetis dan kelompok Marxis yang semata-mata bersifat kenyataan.
            Tujuan pokok Jauss adalah memebongkar kecenderungan sejarah sastra tradisional yang dianggap bersifat universal teleologis, sejarah sastra yang lebih banyak berkaitan dengan sejarah nasional, sejarah umum, dan rangkaian periode. Konsekuensi loguisnya adalah keterlibatan pembaca. Untuk mempertegas peranan pembaca ini, Jauss mengintroduksi konsep horison harapan (Erwatungshorizont). Horison harapan mengandaikan harapan pembaca, cxakrawala pembaca, citra yang timbul sebagai akibat proses pembacaan terdahulu. Jadi, nilai sebuah karya, aspek-aspek estetis yang ditimbulkannya bergantung dari hubungan antara unsur-unsur karya dengan horison harapan pembaca.
            Menurut Jauss, sejarah satra bukan semata-mata rangkaian peristiwa sastra, sejarah sastra adalah rangkaian resepsi pembaca di mana peneliti berada pada rangkaian mata rantai terakhir. Horison harapan mengubah penerimaan pasif menjadi aktif, dari norma-norma estetik yang telah dimiliki menjadi produksi estetika baru, estetika sebagai pesan.
BAB III PENUTUP

Filsafat fenomenologi memberikan perhatian lebih yang diarahkan kepada keberadaan subjek yang mempersepsi objek daripada kepada objek itu sendiri. Hal ini dapat membuka kemungkinan adanya subjektivitas. Hal ini menimbulkan kesadaran akan adanya konteks ruang dan waktu; bahwa pengamat dari tempat yang berbeda akan memiliki standar penilaian yang berbeda, dan begitu pula dengan pengamat dari konteks waktu yang berbeda. Pemikiran inilah yang kemudian akan berkembang menjadi postmodernisme.
Tokoh-tokoh periode postmodernisme diberikan tempat tersendiri karena periode tarakhir ini menjadi akumulasi metode, konsep, dan teori dari periode-periode sebelumnya. Dalam periode ini juga terjadi berbagai permasalahan aktual yang berkaitan dengan kehidupan kita secara langsung. Tokoh-tokoh yang termasuk dalam pemikir dalam periode ini adalah Charles Sanders Peirce, Roman Osipocich Jakobson, Jan Mukarovsky, dan Hans Robert Jauss.


DAFTAR PUSTAKA

Fokkema, D. W. Dan Elrud Kunne–Ibsch. 1998. Teori Sastra Abad Kedua Puluh. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar